*Profil Guru* edisi Juli 2026
BULETIN JULI 2026
Ayub Ardiansyah, Thabita Aprida Sitinjak
7/31/2026
Bicara tentang Sekolah di Tahun Ajaran Baru pasca Musibah Kebakaran bersama Ibu Lia Anggraini, M.Pd.
Ayub Ardiansyah, Thabita Aprida Sitinjak
7/31/2026
Halo, Teman-teman,
Rubrik Profil Guru kali ini tampil agak berbeda dari biasanya. Secara khusus kami berbincang dengan Ibu Lia Anggraini, M. Pd., Kepala SMPN 19 Kota Bengkulu, tentang program sekolah di tahun ajaran baru sekaligus pasca kebakaran hebat yang melanda sekolah pada hari Jumat, 24 Juli 2026 yang lalu.
Gak sabar, kan?
Yuk, ikuti kami terus!
Di ruang kepala sekolah yang sejuk, Ibu Lia Anggraini M. Pd. mengatakan, saat ini sekolah sedang fokus menjalankan tiga program utama. Yang pertama adalah program pembelajaran ujian berbasis online. Kedua kelas prioritas untuk membimbing siswa agar dapat memaksimalkan potensi yang ada. Dan yang ketiga, kegiatan seperti ekstrakurikuler mulai dikembangkan kembali agar siswa memiliki ruang untuk menyalurkan inovasi, prestasi, serta bakat.
Untuk memastikan semua program itu berjalan secara maksimal, beliau memiliki beberapa strategi jitu. Pertama, dipilih tim-tim khusus dari guru mata pelajaran yang bertanggung jawab atas program atau rencana yang akan dilaksanakan, lalu program-programnya dimatangkan terlebih dahulu sebelum program dijalankan. Setelah program dapat berjalan, harus dipastikan pelaksanaannya sesuai dengan harapan yang diinginkan agar hasilnya tidak sia-sia. Selanjutnya, refleksi kegiatan agar bisa mengetahui kendala apa saja terjadi, bagaimana dampaknya, dan apa pendapat siswa mengenai kegiatan yang dilaksanakan. Refleksi berguna untuk keberlangsungan program selanjutnya.
Terkait MPLS, tahun ini SMPN 19 Kota Bengkulu mengusung tema "MPLS Ramah", sesuai dengan arahan Walikota Bengkulu, Dedi Wahyudi. Harapan beliau, kegiatan pengenalan lingkungan sekolah ini benar-benar bersifat positif. Siswa baru bisa saling kenal dengan teman, guru, dan kakak kelas. Ibu Lia menegaskan bahwa MPLS bukan tempat untuk menjadi ajang senioritas, tapi untuk membangun nilai kekeluargaan di lingkungan sekolah beserta lingkungan sekitar.
Sebelum pembelajaran aktif dimulai, guru-guru diminta menganalisis gaya belajar siswa, dengan cara mengamati apakah anak lebih ke visualisasi, auditori atau kinestetik. Selain itu, anak-anak juga didorong agar dapat menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, aktif mengikuti seluruh kegiatan sekolah, ikut lomba di dalam dan luar sekolah, dan yang paling penting tetap berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Agar kegiatan belajar jadi positif dan berkesan, Ibu Lia mengatakan kuncinya sederhana, yakni refleksi. Dari refleksi kita tahu mana yang sudah bagus dan mana yang harus ditingkatkan.
Ibu Lia juga berpesan kepada siswa untuk selalu rukun dengan teman, mengikuti Ikrar Anak Indonesia Hebat, saling menghormati guru, teman, dan TU, cinta tanah air, serta rajin belajar, berprestasi, dan menyayangi orang tua.
Obrolan kemudian berlanjut ke peristiwa yang cukup mengagetkan warga sekolah, yakni pada hari Jumat, 24 Juli 2026, terjadi kebakaran di sekolah pasca sholat Jumat dan selesai KBM. Ibu Lia bercerita, beliau mendapat kabar bahwa terjadi kebakaran di SMP tepatnya di kelas 7E, dan saat sampai di lokasi api sudah cukup besar dan merambat ke ruangan OSIS dan telah menghanguskan 6 kelas, 1 gudang, beserta 1 ruangan OSIS.
Bersyukurnya, kejadian itu terjadi setelah kegiatan belajar selesai. Ruangan yang terbakar juga bukan ruang guru atau TU, melainkan ruang kelas. Kerugian yang ada berupa gedung, meja, kursi, lemari, papan tulis, dokumen-dokumen OSIS dan tidak ada dokumen penting milik sekolah.
Proses pemadaman tidak mudah. Kendala pertama adalah jarak lokasi yang jauh sehingga selang pemadam kurang panjang untuk menggapai area kebakaran. Kedua, bagian gudang paling sulit karena isinya buku, kursi, meja yang merupakan aset negara. Akibatnya api di gudang terus menyala walaupun area lain sudah padam. Ketiga, banyak paku-paku bekas kayu yang menempel ke petugas saat memadamkan api.
Untuk mengatasi dampaknya, sekolah langsung mengambil langkah konkret agar siswa tidak dirugikan, yakni dengan menerapkan sistem shift: kelas 7 belajar pagi, kelas 8 belajar siang, sementara kelas 9 belajar normal seperti biasa. Lalu diadakan pertemuan dengan wali murid untuk menenangkan anak-anak dan memberi pengertian. Anak-anak juga diedukasi agar berhati-hati dengan api karena dampaknya bisa fatal. Orang tua diminta mendampingi belajar di rumah, sementara guru tetap memberikan pendampingan di sekolah.
Harapan beliau mengenai kejadian ini, meskipun terjadi bencana yang merenggut harapan dan kenangan siswa, semoga semangat belajar siswa tidak akan pudar, serta dapat terus membanggakan SMPN 19 Kota Bengkulu. *


